Another Writings

Dear you, Iyem, My soulmate ever after..
Happy birthday dear IST… Happy birthday sahabat abadiku..
Sahabat yang tak pernah lekang oleh waktu.. yang dalam diam merengkuh memapah membersamai..
Memberi isyarat, memberi semangat, menguatkan..
Meskipun dicelah-celah ini, kita kepayahan, kita merangkak, kita menggapai-gapai, pada mimpi, pada sekeping harapan yang dulu kita gantungkan pada satu titik cahaya bintang, masing-masing. Terpisah.

Yem, ini ada tulisanku tentang kita, tentang perasaan rinduku pada kita. Sukses selalu untukmu, kuharap hal yang sama juga segera terjadi padaku. Persembahan bagimu untuk mengenang hari pertama kau membahasai ada.

#TENTANG RINDU PADANYA YANG DITINGGALKAN WAKTU#
Entah sudah tahun ke berapa saat ini, yang kutahu, mentari semakin menyemai peluh dikulitku.
Mengaburkan kerutan lelah yang mulai terlihat.
Dalam ketidaktahuanku ini, aku terus berjalan, kemana saja, menjauh dari kepastian.
Karena ketidakpastian itu adalah niscaya bagiku, baginya.
Kadang saat lelah, saat marah, saat tidak tahu lagi harus berbuat apa, aku harus memundurkan langkah pencarianku, menggapai sekotak asa yang tertinggal jauh disana, teater terbuka. Tempatku dan nya dalam canda, tawa, sedih, duka, perih, dan berbagi kesakitan ini bersama.
Mundur ini bukan berarti aku lemah darinya, kami ini serupa, hanya rangka yang berbeda.
Aku selalu kembali tersenyum setelah menemuinya. Namun saat menemuinya, getir ini tak mampu kunafikan.
Disana, kita bermain dibawah rinai hujan, tertawa, bicara.
Disini, aku bermain bersamanya, dalam kepingan yang tidak lagi nyata, dalam diam.
Inilah kami, yang membahasai genggaman tangan dengan menyusuri tepian garis yang membujur berseberangan. Yang entah kapan titik akhir ini membawa kami bersama, senyatanya tertawa.
Sekarang, lagi-lagi aku mundur, tetapi bukan karena lelah, marah, atau tidak tahu lagi harus berbuat apa melainkan karena terik yang semakin menyengat, menundukkan kepalaku dan membuatku tak bisa lagi berjalan keluar, yang paling parah, aku merindukan hujan.

Happy Birthday Iyem..
(DD, 20 Oktober 2013)

#ADA DARINYA
Ada kata yang dirangkai dengan cinta. Darinya.
Sukar sekali kupercaya ada embun yang masih tersisa di hampir tengah hari.
Kuusap-usap lembabnya dan menyapukan itu ke permukaan kakiku.
Kubiarkan telapaknya menginjak jejumputan rumput yang sudah mengantarkan salam.
Damai ini seketika menyeruak, memenuhi rongga hatiku.
Kubaca berulang kali, rangkaian kata yang begitu indah.
Isyarat hati yang tak pernah salah kutangkap darinya.
Rinduku tidak berdiri sendiri. Tidak bertumpu padanya yang ditinggalkan waktu dan aku di masa lalu.
Tapi rindu ini milik kami, aku dan dia yang saat ini bernafas dalam detik yang sama. Yang mungkin menyelam dalam kehampaan yang sama.
Ingin aku segera mengambil sepatu dan berlari padanya, menanyakan apakah bunga kupu-kupu sudah merekah memenuhi tiap hulu rantingnya..
Lalu, bisakah kita menikmati haluan angin sekali lagi.. atau sekedar menghitung bis yang berlalu lalang dimalam hari, bersama.
Aku hanya diam, melihat jemari kakiku yang tidak lagi ranum seperti putik jambu air.
Jemariku sibuk memutar uang koin, membayangkan disana ada yang sedang terburu-buru ke telepon umum untuk menggunakan koin ini, dan memberikan sapaan hangat untukku.
Aku semakin diam, kini hangat itu tidak mengalir dari telinga ke hatiku, tetapi dari mata.

DD
Jakarta, 27 Oktober 2013, 1.40 AM

#SEKILAS GERIMIS
Gerimis tidak pernah berakhir lama. Selalu singkat. Karena hujan buru-buru mengakhirinya.
Aku tidak suka itu, tapi bagaimanapun, gerimis dan hujan menyatukan kita.
Kita yang berpayung senyuman, Bertemu dalam hitungan waktu dimana satu-dua ketuknya membawa kita pada tikungan jalan yang memisahkan kita.
Kini, Setiap satuan waktu, memberi jarak tak terukur kumulatif. Menjadikan raga kian menjauh.
Pilihan jiwa yang membuatku menjadi asing untukmu, begitupun kamu. Dan kita berpendar dalam rongga kesendirian, aku selalu berharap tidak meredup sendirian.
Aku tertegun, aku baru saja mengunjungimu ditempat kita bermain rinai hujan, teater terbuka.
aku semakin merindukanmu.

DD
Jakarta, 27 Oktober 2013, 1.47AM

#DAUN KERING ITU
Tentang daun kering yang kuhempas kelautan, ternyata tidak mampu menjauhkanku darimu.
Himpunan waktu pun hanya menghilangkan luka dan kebencian saja, tidak pada rinduku akan kerlinganmu, kenakalanmu, pendampinganmu. Sahabat jiwaku.
Tentang cinta itu, biarkan ia membumbung ke angkasa dan bersatu dengan awan. Nanti ia akan turun membasahi kita. Lagi.
Dan biarlah seperti ini, denganku yang merindu, dan kamu yang senantiasa membenci cinta yang bersegi. Karena nyatanya, kau masih memeriksa detak jantungku, mencari-cari bunyinya di celah-celah yang kau temui. Memastikan aku ada.
Betapa jalinan kita bernyawa. Sejauh letak kaki kita, kesunyian itu masih saja mampu mengantarkan sentuhan kerinduan, kekhawatiran, dan kasih sayang yang menyentuh keningmu, keningku.
Ialah diam, bahasa yang paling sederhana untuk aku dan kamu mengerti.
Melalui dinding-dinding bisu ini, aku hantarkan balasan salamku padamu.
Bahwa aku siap kembali berpeluh dibawah mentari itu.
Firasatku, sebentar lagi hujan akan turun.

DD
Jakarta, 27 Oktober 2013, 1.56 AM

#SELALU MENTAH
Ada banyak cerita tentang kasihnya
Yang katanya adalah pengasihan yang abadi
Yang katanya seperti kehangatan mentari, hadirnya abadi
Ada juga yang menyulam namanya di saat terjaga, juga sebelum terlelap
Yang tersenyum, yang bangga, yang memanja padanya
Semuanya bagai formula yang sudah teruji
Tapi selalu mentah dihadapkan padaku
Nyanyian padanya, tidak bisa kulakukan. Lagi.
Seringkali aku bertanya pada dedaunan kering yang tergeletak jatuh di atas tanah
Apakah mereka rindu pada ranting yang menyangganya dulu
Mereka tertawa kecil
Kusadari mereka semakin kering dan tak lagi hijau
Aku mengerti.
Laguku ini ada di ujung ranting, yang merelakan dedaunan itu mengering.

DD
Jakarta, 27 Oktober 2013, 2.28 AM

#TIDAK SEKADAR PATAH
Sayap ini kupastikan tidak patah, ia lumpuh
Jangankan membumbung menyambangi angkasa, merasakannya saja aku tidak bisa
Menjadikanku semakin takut pada angin disekitarku
juga pada dedaunan disela pepohonan
Aku menjadi tersekap dalam nuansa kebatinan, sendirian.
Aku bertanya-tanya tentang ketangguhan, tentang arti dari helaian bulu-bulu yang meruas membalut tubuhku.
Untuk kesekian kali, tidak ada kutemukan jawaban, kecuali aku berjalan.
Mengganti medan yang seharusnya kutempuh
Menggunakan kaki dan bukan sayap
Menapaki daratan dan bukan menyentuh udara diatas sana
Mengubah caraku berpindah adalah caraku bertahan
Tidak dengan terbang, melainkan berjalan
Terhadap ini, tidak satu tarikan nafas pun hadir untuk menentangnya.
Sekalipun dalam hati, aku iri, pada mereka yang mengudara
Dengan sayap yang semakin membesar
Sementara punyaku, hanya benda yang menjadi bagian dari tubuhku
Yang jika dilepas tidak akan memberikan keringanan apapun kecuali mematikan
Karena ia tidak sekadar patah.

DD
Jakarta, 27 Oktober 2013,3.05 AM

#PAPA ITU LUKA

Papa.
Ada getir dan pilu tiap kali menyebut nama itu.
Di batin, di jiwa, di raga, kata itu luka.
Sejauh mana waktu ini menyandingku, luka ini tak kunjung mendangkal.
Malah meradang di kala hujan, di kala dingin, terutama saat gelap.
kadang ingin saja kuhempas cermin itu hingga luluh berantakan
karena tak terima paruhan papa di raut wajahku.
Pernah juga aku membenci nafasku, karena tak nyaman dengan darah yang mengalir di tubuhku.
Lalu semua hanya menyisakan keletihan.
Sesekali rasa yang bernama rindu tidak sungkan menyambangiku
Bertanya kabar tentang sosoknya
Papa yang ada dalam buku cerita, buku bacaan di perpustakaan itu
Aku menjawabnya dengan mencari
Padanya yang kurindukan ada.
Helai demi helai halaman ini menuntunku
Kejalan yang ujungnya tidak ku ketahui, entah luka entah apa yang menunggu disana.
Kuharap aku bisa membuang luka ini, setidaknya sekadar untuk merasa nyaman membacanya.
Jika damai memanggilnya adalah suatu ketidakmungkinan yang pasti
Lalu mengapa aku masih mencari.

Papa itu paruhan jiwaku
Yang kurasakan seperti sebengkak luka
Lalu mengapa aku terus mencarinya?
Di setiap kekhususan saat, terutama saat hujan, saat kedinginan, dan gelap.

DD
Jakarta, 28 Oktober 2013,1.36 AM

#TIDAK KERING, ATAUPUN DINGIN.
Tatapan itu, aku sangat mengenalnya
Sorotan mata itu, selalu mengantarku ke padang pasir dan menyesatkanku.
Dan aku tidak pernah berhenti tersesat.
Haus dan kekeringan menjadi nama tengah yang tidak pernah bisa kuelakkan.

Bentuk dan warna matanya selalu mengawasiku dari atas
Menyapu setiap sahara dengan kerlingannya
Sesekali, ia menjadikan pasir bernyawa, membuat nafasku tersengal dan sesak

Aku sulit mengerti
Mengapa tidak pernah ada hutan diujung sana
Selalu sekadar ilusi, lalu badai pasir kembali datang.

Pasrah sering menuntunku menatap kembali dia
Bertanya-tanya mengapa dia begitu menginginkanku tersesat dan kekeringan
Tidak tahukah dia aku sudah sangat letih berjalan
Menyusuri padang pasir yang tidak kunjung habis
Tidak tahukah dia aku sangat kehausan

Seringkali akhirnya, kututup perjalananku dengan memejamkan mata.
Berusaha mengabaikan tatapan itu.
Selalu berhasil mengubah padang pasir menjadi ruang besar tanpa isi
Kosong.
Membuatku menahan dingin yang amat sangat.

Jika disuruh memilih,
Aku tidak ingin merasa kering atau merasa kedinginan
Sayangnya, tatapan itu selalu mengikutiku
seperti lapisan kulit yang membungkus erat tubuhku
namun, aku hanya bisa berkata, tidak ingin keduanya.

DD
Jakarta, 29 Oktober 2013, 9.16 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s